Pasar tradisional adalah tempat orang bekerja sejak sebelum matahari terbit. Pedagang menimbang cabai, memotong ayam, menggoreng bakwan, dan melayani pelanggan tetap dalam ruang yang sempit dan basah. Bagi pelancong, pasar adalah pintu masuk paling jujur ke dapur sebuah daerah. Bagi pedagang, pengunjung yang ingin mencicipi bisa menjadi pembeli, bisa juga menjadi hambatan di jam paling sibuk. Etika mencicipi makanan di pasar pada dasarnya mengatur jarak di antara dua kepentingan itu: rasa ingin tahu pengunjung dan nafkah orang yang berjualan.
Artikel ini menyusun etika tersebut dari dua sumber yang jarang digabungkan. Yang pertama adalah aturan kesehatan pasar di Indonesia, terutama Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2020 tentang Pasar Sehat. Yang kedua adalah panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pasar pangan tradisional dan penanganan makanan. Dari keduanya, sopan santun di lapak ternyata bukan sekadar soal tata krama. Banyak kebiasaan sopan juga merupakan kebiasaan yang menjaga makanan tetap aman bagi pembeli berikutnya.
Pasar rakyat dalam aturan kesehatan Indonesia
Permenkes 17/2020 mendefinisikan Pasar Rakyat sebagai tempat usaha yang ditata, dibangun, dan dikelola oleh pemerintah, swasta, BUMN, atau BUMD. Bentuknya dapat berupa toko, kios, los, dan tenda yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil dan menengah, swadaya masyarakat, koperasi, atau usaha mikro, kecil, dan menengah. Ciri yang disebut langsung dalam definisi itu adalah proses jual beli melalui tawar-menawar. Artinya, percakapan soal harga diakui sebagai bagian dari cara pasar bekerja, bukan kebiasaan yang perlu dihindari pengunjung.
Peraturan yang sama memakai istilah Pasar Sehat untuk kondisi pasar rakyat yang bersih, aman, nyaman, dan sehat. Kondisi itu dicapai melalui pemenuhan standar baku mutu kesehatan lingkungan, persyaratan kesehatan, serta sarana dan prasarana penunjang, dengan mengutamakan kemandirian komunitas pasar. Bagian yang penting bagi pelancong ada pada definisi Komunitas Pasar Rakyat. Komunitas itu terdiri atas pengelola pasar, pedagang, pekerja, pengunjung, dan pembeli. Pengunjung yang hanya mampir untuk mencicipi pun termasuk di dalamnya.
Ketika pengunjung disebut sebagai bagian dari komunitas, tanggung jawabnya ikut terbentuk. Kebersihan pasar tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan dan pedagang. Ia juga ditentukan oleh tangan yang menyentuh dagangan, sampah tusuk sate yang dibuang, dan cara orang antre di depan wajan panas. WHO menyatakan hal serupa dalam panduan Healthy Food Markets: setiap pasar pangan, apa pun budayanya, seharusnya menyediakan makanan yang aman dan bergizi bagi komunitasnya. Panduan itu juga menekankan bahwa proyek pasar sehat berhasil ketika komunitas bergerak bersama menuju visi yang sama.
Tata letak pasar dan alasan di baliknya
Sebelum mencicipi apa pun, luangkan beberapa menit untuk membaca tata letak. Lampiran Permenkes 17/2020 meminta pembagian area atau zonasi menurut jenis komoditas, misalnya basah dan kering. Tempat penjualan daging, karkas unggas, dan ikan ditempatkan di tempat khusus. Tata letak ini membantu pengunjung menentukan di mana mencicipi masih masuk akal dan di mana cukup melihat.
| Area | Persyaratan yang disebut Permenkes 17/2020 | Sikap pengunjung yang selaras |
|---|---|---|
| Pangan basah (daging, unggas, ikan) | Meja rata dan miring agar air tidak menggenang, tahan karat, bukan kayu; pisau bahan mentah dan matang berbeda; tersedia tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. | Mengamati tanpa menyentuh; tidak mencicipi bahan mentah; menyimpan pertanyaan sampai pedagang tidak sedang memotong. |
| Pangan kering | Meja dengan permukaan rata dan mudah dibersihkan, setinggi minimal 60 cm dari lantai. | Meminta izin sebelum mencium atau memegang rempah, kerupuk, atau kue kering curah. |
| Makanan jajanan siap saji | Disajikan dengan alat bersih, dalam keadaan terbungkus atau tertutup; jajanan yang sudah lebih dari enam jam diolah kembali sebelum disajikan bila masih baik. | Mencicipi hanya bila ditawarkan atau diizinkan, dengan alat yang disediakan pedagang. |
| Seluruh area | Tempat sampah kering dan basah yang tertutup; tidak ada asap rokok; tempat penjualan bebas lalat, kecoa, tikus, dan nyamuk. | Membawa pulang atau membuang sampah di tempat yang benar; tidak merokok di dalam pasar. |
Tidak semua pasar sudah memenuhi persyaratan itu secara penuh. Namun, daftar tersebut memberi pengunjung cara membaca yang lebih tajam. Lapak gorengan dengan penutup kaca, wadah tertutup, dan penjepit terpisah menunjukkan penjualnya memikirkan kebersihan. Meja ikan yang digenangi air, sementara pisau yang sama dipakai untuk memotong lauk matang, adalah tanda untuk tidak mencicipi di lapak itu, sesopan apa pun tawarannya.
Pagi hari biasanya menjadi waktu paling padat untuk berbelanja bahan, sedangkan lapak sarapan bekerja dalam irama yang lain. Bila tujuan utama Anda adalah menu pagi, panduan tentang cara menemukan menu sarapan di pasar dapat membantu memilih lapak sebelum mulai mencicipi.
Lapak makanan siap santap: izin, alat, dan porsi cicip
Di sebagian besar pasar Indonesia, mencicipi gratis bukan hak pengunjung. Ada pedagang yang senang memberi sepotong kue untuk dicoba, ada yang lebih suka menjual porsi kecil. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memang memuat kewajiban pelaku usaha untuk memberi kesempatan kepada konsumen menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu. Rumusan “barang tertentu” itu tidak berarti setiap lapak wajib membagikan sampel makanan. Etika yang paling aman adalah memperlakukan setiap cicipan sebagai tawaran, bukan tuntutan.
Meminta izin dengan kalimat pendek
Kalimat sederhana sudah cukup: “Bu, boleh dicoba sedikit sebelum beli?” atau “Pak, ada porsi kecil?” Pertanyaan kedua sering lebih baik, karena memberi pedagang pilihan untuk menjual tanpa merasa harus memberi. Bila pedagang menjawab bahwa sampel tidak tersedia, terima jawabannya dan putuskan apakah akan membeli porsi terkecil. Di lapak yang memajang beberapa jenis jajan pasar, membeli satu potong dari masing-masing jenis biasanya lebih menyenangkan bagi kedua pihak daripada meminta cicipan berkali-kali.
Alat cicip milik pedagang
Kunci pertama WHO untuk penanganan pangan adalah menjaga kebersihan. Di lapak, prinsip ini berarti tangan pengunjung tidak masuk ke wadah dagangan. Tunggu pedagang mengambilkan dengan penjepit, sendok, atau sepotong daun pisang. Bila diberikan sendok kecil untuk mencicipi kuah, pakai sekali saja lalu kembalikan ke tempat yang ditunjuk, bukan ke dalam panci. Kebiasaan mencelupkan sendok bekas mulut ke wadah bersama adalah cara paling cepat memindahkan kuman dari satu orang ke banyak orang.
Satu cicipan, satu keputusan
Cicipan berfungsi untuk mengambil keputusan, bukan untuk makan gratis. Setelah mencicipi, beri jawaban yang jelas: membeli, bertanya lagi, atau berterima kasih dan beranjak. Bila rasanya tidak cocok, cukup katakan bahwa Anda akan berkeliling dulu. Komentar seperti “terlalu asin” di depan pembeli lain dapat merugikan pedagang, padahal selera bisa berbeda. Catat kesan itu untuk diri sendiri, atau sampaikan secara pribadi bila pedagang menanyakan pendapat.
Waktu yang tepat untuk mencicipi
Antrean panjang di depan lapak lontong atau nasi adalah tanda pedagang sedang bekerja pada kecepatan penuh. Meminta cicipan pada saat itu berarti menahan banyak orang sekaligus. Kembalilah ketika antrean mereda, atau ikut mengantre dan beli porsi kecil. Di lapak yang baru saja membuka dagangan, pedagang biasanya masih menata barang dan lebih mudah diajak bicara setelah semuanya siap.

Bahan mentah dicukupkan untuk dilihat dan dicium
Pasar tradisional juga menjual banyak bahan yang menggoda untuk dicoba: tempe yang baru dibungkus, ikan asin, terasi, kelapa parut, atau tauge. Sebagian besar bahan ini dimaksudkan untuk dimasak terlebih dahulu. Kunci ketiga WHO, memasak sampai matang, dan kunci kelima, memakai air dan bahan baku yang aman, menjelaskan alasannya. Bahan mentah dapat membawa bakteri atau parasit yang baru mati setelah dipanaskan dengan cukup.
Untuk bahan seperti ini, pengamatan lebih bermanfaat daripada cicipan. Tanyakan asal bahan, cara pembuatannya, dan cara pedagang biasa mengolahnya. Mencium aroma dari jarak wajar umumnya tidak menjadi masalah, selama Anda tidak menempelkan hidung ke tumpukan dagangan. Bila pedagang buah menawarkan potongan mangga atau salak untuk dicoba, perhatikan pisau dan talenan yang dipakai. Bila pisau yang sama baru saja dipakai untuk membersihkan ikan, menolak dengan halus adalah keputusan yang wajar.
Kunci kedua WHO, memisahkan bahan mentah dan matang, juga berlaku pada barang bawaan pengunjung. Bila Anda membeli ikan atau daging untuk dibawa ke dapur penginapan, letakkan dalam kantong terpisah dari kue atau lauk matang yang akan dimakan di jalan. Permenkes 17/2020 meminta pisau untuk bahan mentah dan bahan matang berbeda, dan prinsip yang sama berlaku untuk kantong belanja.
Pedoman WHO untuk pasar pangan tradisional
WHO Kantor Regional Pasifik Barat menerbitkan manual Five keys for safer traditional food markets untuk kawasan Asia-Pasifik. Manual setebal 70 halaman itu ditujukan bagi pemerintah daerah, komunitas pasar, dan konsumen. Isinya mencakup keamanan pangan, penyakit zoonosis, dan penyakit infeksi saluran pernapasan. Lima kuncinya berbeda dari Five Keys to Safer Food yang lebih umum. Masing-masing dapat diterjemahkan menjadi tindakan sederhana bagi pengunjung.
- Jaga kebersihan (keep clean). Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir bila tersedia sebelum makan di pasar. Hand sanitizer dapat membantu ketika tidak ada keran, tetapi tangan yang kotor oleh tanah atau minyak tetap perlu dibilas. Buang tisu dan bungkus di tempat sampah.
- Hindari kontaminasi (avoid contamination). Tidak memegang makanan yang tidak akan dibeli, tidak meletakkan tas di atas meja dagangan, dan tidak bersin atau batuk ke arah makanan terbuka.
- Jaga produk pangan tetap aman (keep food products safe). Pilih makanan yang tertutup dan baru dimasak. Untuk makanan yang dibawa pulang, perhatikan berapa lama ia akan berada di suhu ruang.
- Kurangi kontak dengan hewan (reduce contact with animals). Di pasar yang menjual unggas hidup, hindari memegang hewan, sangkar, atau kotorannya, lalu jauhkan anak-anak dari area tersebut.
- Tetap aman dan lindungi diri (stay safe, protect yourself). Gunakan alas kaki tertutup di lantai basah, beri jarak di lorong sempit, dan pertimbangkan masker bila sedang batuk atau pilek.
Kunci keempat sering terlewat dalam pembahasan etika kuliner, padahal relevan di pasar yang menjual ayam atau bebek hidup. Manual WHO menempatkan zoonosis, yaitu penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia, sebagai salah satu risiko utama pasar tradisional di kawasan ini. Bagi pelancong, menahan diri untuk tidak memegang hewan dagangan adalah bentuk hormat pada pedagang sekaligus perlindungan bagi diri sendiri.
Lima kunci yang lebih umum, yaitu menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dan matang, memasak sampai matang, menyimpan pangan pada suhu aman, serta memakai air dan bahan baku yang aman, dikembangkan WHO untuk konsumen dan penjamah makanan. Menurut halaman resminya, pesan ini divalidasi oleh badan ilmuwan internasional yang independen pada 2001. Poster Five Keys juga sudah diterjemahkan ke 88 bahasa per Oktober 2019. Kedua set kunci itu saling melengkapi: yang satu menekankan perilaku di dalam pasar, yang lain menekankan cara makanan ditangani.
Bertanya tentang bahan dan harga tanpa menahan antrean
UU 8/1999 menyebut hak konsumen atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi barang. Di pasar, hak ini paling mudah dijalankan melalui pertanyaan singkat. Pertanyaan yang baik dapat dijawab dalam satu kalimat dan berkaitan langsung dengan keputusan membeli. Contohnya: “Ini pakai santan?”, “Ada udangnya?”, “Pedasnya dari cabai rawit?”, atau “Harganya per bungkus atau per potong?”
Untuk kebutuhan yang lebih rumit, misalnya alergi kacang, pantangan makanan, atau pola makan vegetarian, susun pertanyaan berlapis dan sampaikan sebelum pedagang mulai menyiapkan porsi. Pembahasan lengkap tentang cara bertanya tentang bahan makanan dengan sopan menguraikan bahan tersembunyi seperti terasi, ebi, dan kaldu yang sering tidak terlihat di permukaan hidangan. Bila jawaban pedagang tidak pasti, keputusan paling aman ada di tangan Anda. Lebih baik memilih menu lain daripada mendesak pedagang menjamin sesuatu yang tidak ia ketahui.
Pertanyaan harga sebaiknya diajukan sebelum makanan dibungkus atau dimakan. Kebiasaan ini mencegah salah paham, terutama di lapak tanpa daftar harga. Bila harga yang disebut terasa tinggi, Anda masih bisa memutuskan dengan tenang sebelum ada makanan yang terlanjur disiapkan.
Menawar dan membayar di pasar tradisional
Karena tawar-menawar disebut dalam definisi Pasar Rakyat, menawar sendiri tidak melanggar etika. Yang perlu dibaca adalah jenis barangnya. Bahan mentah dalam jumlah besar, seperti satu kilogram cabai atau beberapa ikat sayur, lebih lazim ditawar. Makanan siap santap dalam porsi kecil, seperti sebungkus nasi atau dua potong kue, biasanya sudah dihargai tipis dan jarang ditawar oleh pembeli lokal. Amati cara pembeli lain bertransaksi sebelum mulai menawar.
Bila memutuskan menawar, lakukan sekali atau dua kali dengan nada santai dan terima harga akhir atau batalkan dengan sopan. UU 8/1999 juga menuliskan kewajiban konsumen untuk beritikad baik dalam transaksi dan membayar sesuai nilai tukar yang disepakati. Dalam bahasa pasar, setelah harga disepakati dan barang diserahkan, pembayaran mengikuti harga itu tanpa negosiasi ulang.
Banyak lapak kini memajang stiker QRIS di samping menerima uang tunai, tetapi pilihan itu tetap bergantung pada tiap pedagang. Ketentuan biaya, batas nominal, dan kebiasaan mencatat pembayaran nontunai diuraikan dalam panduan menyusun anggaran wisata kuliner; di lorong pasar, cukup siapkan uang pecahan kecil dan perlihatkan layar konfirmasi kepada pedagang setelah memindai.
Memotret pedagang dan dagangan
Lapak yang penuh warna mengundang kamera. Namun, pasar adalah ruang kerja, dan sebagian besar pedagang tidak sedang berpose. Memotret tumpukan cabai dari jarak wajar tanpa menghalangi pembeli umumnya tidak menimbulkan masalah. Memotret wajah pedagang dari dekat lain soal. Mintalah izin terlebih dahulu dengan menunjukkan kamera atau ponsel dan bertanya singkat. Bila jawabannya tidak, simpan kamera dan lanjutkan berbelanja.
Etika yang sama berlaku di warung makan rumahan, tempat batas antara ruang usaha dan ruang keluarga lebih tipis daripada di pasar. Di sana, dapur, kamar, dan anggota keluarga pemilik sering ikut terlihat dari meja pembeli, sehingga izin sebelum memotret menjadi lebih penting lagi.
Satu kebiasaan sederhana membuat pengunjung lebih diterima: belilah sesuatu dari lapak yang dipotret. Pembelian kecil menunjukkan bahwa perhatian Anda tidak hanya berhenti pada gambar. Kebiasaan ini juga memberi kesempatan untuk bertanya tentang dagangan, sehingga keterangan foto nantinya lebih akurat.
Rombongan, anak-anak, dan barang bawaan
Lorong pasar dirancang untuk arus orang yang berbelanja, bukan untuk rombongan yang berhenti bersamaan. Rombongan wisata kuliner sebaiknya memecah diri menjadi kelompok kecil yang terdiri atas dua atau tiga orang, lalu bertemu kembali di titik yang tidak menghalangi lapak, misalnya di dekat pintu masuk atau area parkir. Pemandu atau koordinator dapat membeli beberapa porsi untuk dibagi, sehingga pedagang tidak perlu melayani belasan permintaan cicipan.
Anak-anak sering tertarik pada hewan dagangan, tumpukan buah, atau jajanan berwarna terang. Pegang tangan mereka di lorong yang licin, dan jelaskan sejak awal bahwa dagangan tidak boleh dipegang tanpa izin. Kunci keempat WHO tentang mengurangi kontak dengan hewan terutama penting bagi anak-anak, yang cenderung menyentuh lalu memasukkan tangan ke mulut.
Ransel besar mudah menyenggol tumpukan telur atau botol kecap. Pindahkan ransel ke depan tubuh atau bawa tas kecil saja. Payung basah, kantong belanja, dan tongsis juga memerlukan ruang. Makin ringkas bawaan Anda, makin mudah bergerak tanpa mengganggu pedagang dan pembeli lain.
Perilaku pengunjung dalam lampiran Permenkes Pasar Sehat
Lampiran Permenkes 17/2020 tidak hanya mengatur bangunan dan meja dagang. Pada bagian promosi higiene dan sanitasi, peraturan itu merinci perilaku hidup bersih dan sehat yang diharapkan dari tiga kelompok, yaitu pedagang dan pekerja, pengunjung atau pembeli, serta pengelola pasar. Untuk pengunjung dan pembeli, daftarnya pendek dan konkret: segera mencuci tangan dengan sabun, terutama setelah memegang daging, ikan, ayam, dan bahan pangan lainnya; tidak merokok di area pasar; membuang sampah pada tempatnya; tidak meludah dan membuang dahak sembarangan; serta memakai masker saat batuk, bersin, atau pilek.
Daftar untuk pedagang dan pekerja lebih panjang. Di dalamnya ada pemakaian alat pelindung diri seperti sepatu bot, sarung tangan, celemek, dan penutup rambut bagi pedagang daging, unggas, dan ikan; pemeriksaan kesehatan berkala minimal enam bulan sekali; serta ketentuan bahwa pedagang makanan siap saji tidak sedang menderita penyakit menular langsung seperti diare, hepatitis, TBC, kudis, atau ISPA. Membaca kedua daftar itu berdampingan membantu pengunjung menempatkan diri. Kewajiban pengunjung memang ringan, tetapi sifatnya timbal balik. Pedagang diminta menjaga kesehatannya demi pembeli, dan pembeli diminta tidak membawa risiko baru ke lapak. Pengunjung yang sedang flu, misalnya, sebaiknya memakai masker dan menahan diri dari mencicipi makanan yang terbuka.
Fasilitas penunjang di pasar rakyat
Pasal 7 Permenkes 17/2020 meminta pengelola pasar rakyat mengupayakan sarana dan prasarana penunjang, yaitu tempat ibadah, tempat pelayanan kesehatan, ruang menyusui dan/atau memerah ASI termasuk tempat penitipan anak, ruang terbuka hijau, dan fasilitas lain sesuai kebutuhan. Lampirannya menambahkan persyaratan toilet laki-laki dan perempuan yang terpisah, toilet khusus penyandang disabilitas, serta pintu toilet yang tidak menghadap langsung ke tempat penjualan makanan dan bahan pangan. Untuk keselamatan, lampiran itu menyebut alat pemadam api ringan di setiap los atau zona, jalur dan petunjuk evakuasi, titik kumpul, serta pos keamanan dengan petugas.
Kata “mengupayakan” menunjukkan bahwa tidak semua pasar sudah memiliki seluruh fasilitas itu. Namun, mengetahui daftarnya memudahkan pengunjung mencari bantuan dengan tepat. Orang tua yang perlu menyusui dapat bertanya kepada pengelola tentang ruang yang tersedia, alih-alih menumpang di balik lapak pedagang. Pengunjung yang terluka atau tiba-tiba lemas di lorong dapat diarahkan ke tempat pelayanan kesehatan atau pos keamanan. Lampiran yang sama juga menetapkan lebar lorong setiap los minimal 1,5 meter. Ukuran ini menjelaskan mengapa rombongan yang berhenti bersamaan di depan satu lapak cepat menutup jalan, dan mengapa titik kumpul sebaiknya dipilih di ruang terbuka atau di dekat pintu masuk.
Sampah, sisa makanan, dan kebiasaan merokok
Permenkes 17/2020 meminta tempat sampah kering dan basah yang kedap air, tertutup, dan mudah diangkat. Peraturan yang sama juga menyebut tidak ada asap rokok dan tidak ada pembakaran sampah di pasar rakyat. Bagi pengunjung, artinya cukup jelas. Tusuk sate, daun pisang, plastik, dan sisa makanan dibuang ke tempat sampah yang tersedia. Bila tempat sampah tidak terlihat, kantong kecil di tas dapat menampung sampah sampai Anda menemukannya.
Sisa makanan yang tidak habis sebaiknya tidak ditinggalkan di meja pedagang. Bila porsi terlalu besar, mintalah dibungkus sejak awal atau berbagi dengan teman perjalanan. Kebiasaan membeli porsi kecil di beberapa lapak lebih ramah bagi perut dan bagi sampah pasar dibanding membeli porsi penuh di setiap tempat.
Merokok di lorong pasar mengganggu pedagang yang sedang mengolah makanan, dan asapnya bisa menempel pada dagangan terbuka. Bila perlu merokok, keluarlah ke area yang memang diperuntukkan untuk itu dan jauh dari pintu masuk.
Belanjaan pasar yang dibawa ke penginapan
Banyak pelancong menutup kunjungan pasar dengan membeli bahan atau lauk untuk dimakan nanti. Permenkes 17/2020 memberi gambaran suhu yang dipakai pasar sehat untuk menyimpan dagangan. Produk hewan dan olahan beku disimpan pada suhu maksimum minus 18 derajat Celsius. Produk hewan dan olahan dingin disimpan pada suhu maksimum 4 derajat Celsius. Sayur, buah, dan minuman disebut disimpan pada suhu 10 derajat Celsius, sedangkan makanan dalam kemasan tertutup disimpan pada suhu rendah 4 sampai 10 derajat Celsius.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa ikan, daging, atau lauk bersantan yang dibawa berjalan berjam-jam di udara panas sudah keluar dari kondisi penyimpanan yang dianjurkan. Kunci keempat Five Keys to Safer Food, yaitu menyimpan pangan pada suhu aman, berlaku di sini. Bila penginapan tidak memiliki lemari pendingin, belilah bahan mentah hanya bila akan langsung dimasak, dan pilih lauk matang yang akan habis dalam waktu singkat. Kantong berinsulasi dan es batu dari penjual es membantu untuk perjalanan pendek, tetapi tidak menggantikan lemari pendingin.
Peraturan yang sama juga mengatur jarak penyimpanan bahan makanan dari lantai, yaitu 15 sentimeter. Di kamar penginapan, prinsip itu dapat diterapkan dengan sederhana: kantong makanan diletakkan di meja, bukan di lantai atau di dekat sepatu.
Ketika makanan atau layanan terasa keliru
Kadang ada yang tidak sesuai: harga berbeda dari yang disebutkan, porsi lebih kecil dari kesepakatan, atau makanan terasa basi. UU 8/1999 menyebut hak konsumen untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang yang digunakan. Di pasar, hak ini paling efektif dijalankan secara langsung dan tenang, pada saat kejadian, kepada pedagang yang bersangkutan.
Sampaikan fakta yang dapat diperiksa bersama, misalnya “Tadi disebut lima ribu, ini dihitung delapan ribu” atau “Lauk ini baunya asam”. Hindari tuduhan tentang niat pedagang. Banyak salah paham harga terjadi karena perbedaan satuan, misalnya per potong atau per bungkus. Bila masalahnya menyangkut kebersihan pasar secara umum, seperti saluran tersumbat atau tidak ada tempat cuci tangan, pengelola pasar adalah pihak yang tepat. Permenkes 17/2020 menyebut pengelola pasar rakyat bertanggung jawab atas operasional, keamanan, kebersihan, dan kenyamanan pasar.
Bila setelah makan muncul gejala seperti diare atau muntah, prioritas utamanya adalah kesehatan, bukan keluhan. Minumlah cukup cairan dan cari pertolongan medis bila gejala berat, disertai darah, atau berlangsung lama. Catat makanan yang dikonsumsi beserta waktu dan tempatnya, karena informasi itu berguna bagi tenaga kesehatan.
Urutan sederhana untuk satu kunjungan pasar
Uraian di atas bisa dipadatkan menjadi urutan kunjungan yang mudah diingat. Mulailah dengan berkeliling tanpa membeli untuk membaca zona dan lapak. Cuci tangan bila ada fasilitas. Pilih lapak siap santap yang makanannya tertutup dan memakai alat ambil. Tanyakan bahan dan harga sebelum memesan, lalu minta porsi kecil atau cicipan hanya bila suasana lapak memungkinkan. Bayar sesuai kesepakatan dengan uang pas atau QRIS dan tunjukkan bukti pembayaran. Buang sampah di tempatnya, dan hindari menyentuh hewan dagangan maupun bahan mentah.
Urutan ini tidak menjamin setiap makanan aman, dan tidak menggantikan penilaian pribadi tentang kondisi tubuh sendiri. Namun, urutan ini membuat kehadiran pengunjung lebih ringan bagi pedagang. Ukuran sederhananya, pengunjung pasar yang beretika adalah pengunjung yang meninggalkan lapak dalam keadaan sama baiknya seperti saat ia datang, sementara ia sendiri pulang dengan pengetahuan baru tentang dapur daerah itu.
Cicipan gratis, wadah sendiri, dan pasar berbahasa daerah
- Wajarkah meninggalkan lapak setelah mencicipi tanpa membeli?
- Wajar, selama cicipan itu memang ditawarkan dan Anda berterima kasih. Hal yang sebaiknya dihindari adalah berpindah dari satu lapak ke lapak lain hanya untuk mengumpulkan cicipan gratis.
- Bagaimana bila pedagang memberi cicipan dengan tangan telanjang?
- Anda boleh menolak dengan halus, misalnya dengan mengatakan sedang menunggu teman, lalu membeli porsi terbungkus bila tetap tertarik. Teguran soal kebersihan lebih tepat disampaikan kepada pengelola pasar daripada di depan pembeli lain.
- Membawa wadah sendiri ke pasar, boleh atau tidak?
- Umumnya boleh dan membantu mengurangi plastik. Serahkan wadah dalam keadaan bersih dan kering, lalu biarkan pedagang memutuskan apakah wadah itu sesuai untuk makanan yang dibeli, terutama makanan berkuah panas.
- Bagaimana bersikap di pasar yang mayoritas pedagangnya tidak berbahasa Indonesia?
- Gunakan kalimat pendek, angka dengan jari, dan isyarat menunjuk dengan seluruh telapak tangan. Mempelajari sapaan dan ucapan terima kasih dalam bahasa daerah setempat biasanya disambut baik.
Pasar sehat dalam regulasi dan panduan kesehatan
- Permenkes No. 17 Tahun 2020 tentang Pasar Sehat — JDIH BPK RI.
- Five keys for safer traditional food markets — World Health Organization, Regional Office for the Western Pacific.
- Five keys to safer food — World Health Organization.
- A guide to healthy food markets — World Health Organization.
- UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen — JDIH BPK RI.

