Keamanan Pangan

Daftar Periksa Kebersihan saat Jajan: Tanda yang Bisa Diamati dari Gerobak sampai Gelas Es

Lima kunci keamanan pangan WHO dan standar kesehatan lingkungan Kementerian Kesehatan diterjemahkan menjadi hal-hal yang dapat diamati dalam satu atau dua menit di depan lapak.

Ilustrasi AI — penjual berceleme merah menumis mi dan tauge di wajan besar beruap di lapak terbuka, dengan keranjang sayur mentah dan wadah bahan di sisi kiri
Ilustrasi AI — Makanan yang dimasak panas di depan pembeli memberi petunjuk yang mudah diamati.

Jajanan kaki lima adalah bagian penting wisata kuliner Indonesia, dan sebagian besar pembeli pulang tanpa masalah. Meski begitu, penyakit akibat makanan tercemar tetap besar skalanya. Lembar fakta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang keamanan pangan yang diperbarui 4 Juni 2026 memperkirakan 866 juta orang di dunia jatuh sakit setelah makan makanan tercemar dan 1,52 juta meninggal setiap tahun. Anak di bawah lima tahun menanggung 29 persen beban kesehatan tersebut.

Pembeli tidak bisa memeriksa laboratorium sebuah gerobak. Yang bisa dilakukan adalah mengamati beberapa tanda yang terkait langsung dengan prinsip keamanan pangan, lalu memilih menu yang risikonya lebih kecil. Daftar periksa di bawah ini disusun dari dua rujukan: poster dan manual Five Keys to Safer Food dari WHO, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 yang memuat standar kesehatan lingkungan untuk pangan olahan siap saji. Setiap butir ditulis sebagai hal yang dapat dilihat, ditanyakan, atau diputuskan dalam satu atau dua menit.

Jajanan kaki lima dalam aturan kesehatan lingkungan

Dalam konsultasi regional WHO Asia Tenggara tentang pangan jalanan di Bangkok pada Juni 2011, perwakilan Badan POM menjelaskan bahwa Indonesia mendefinisikan pangan jajanan sebagai makanan dan minuman siap santap yang disiapkan atau dijual pedagang di jalan menggunakan gerobak, pikulan, keranjang, meja kecil, atau lapak sementara. Definisi ini mencakup hampir semua yang dijumpai pelancong, dari gerobak bakso sampai penjual gorengan di trotoar.

Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan PP Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan, yang berlaku sejak 12 Januari 2023, memakai istilah pangan olahan siap saji. Definisinya menyebut pangan yang disajikan di jasa boga, hotel, restoran, rumah makan, kafetaria, kantin, kaki lima, gerai makanan keliling atau food truck, dan penjaja makanan keliling. Persyaratan kesehatannya diterapkan pada empat hal: tempat, peralatan, penjamah pangan, dan pangan itu sendiri. Empat hal ini menjadi kerangka yang berguna bagi pembeli karena semuanya bisa diamati dari depan lapak, meskipun tidak semuanya bisa dinilai dengan pasti.

Permenkes yang sama juga menyebut sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) bagi tempat pengelolaan pangan yang telah diperiksa dan memenuhi syarat. Gerobak kaki lima jarang memajang sertifikat semacam itu, sehingga pengamatan langsung tetap menjadi alat utama pembeli.

Lima kunci WHO yang bisa dilihat dari depan lapak

WHO merumuskan lima kunci keamanan pangan: jaga kebersihan, pisahkan bahan mentah dan matang, masak hingga matang, simpan makanan pada suhu aman, serta gunakan air dan bahan baku yang aman. Tabel berikut memetakan setiap kunci ke tanda yang dapat dilihat pembeli.

Kunci WHO Tanda yang mendukung Tanda yang perlu dipertimbangkan
Jaga kebersihan Ada air dan sabun atau penjual memakai penjepit Uang dan makanan dipegang tangan yang sama
Pisahkan mentah dan matang Wadah dan talenan berbeda, makanan matang tertutup Daging mentah menetes di atas lauk matang
Masak hingga matang Digoreng atau direbus ulang saat dipesan Daging atau telur masih merah atau encer
Suhu aman Kuah mengepul, lauk dingin di wadah berpendingin Lauk bersantan terpajang lama di udara panas
Air dan bahan aman Air minum kemasan tersegel, es dari sumber jelas Es balok dipecah di lantai, sayur mentah tidak dicuci

Satu tanda tidak menentukan segalanya. Manual Five Keys WHO mengingatkan bahwa bakteri berbahaya tidak selalu membuat makanan berbau, berasa, atau terlihat buruk. Karena itu, keputusan sebaiknya bertumpu pada beberapa tanda sekaligus, bukan pada kesan rapi atau ramai.

Ilustrasi AI — penjual bersarung tangan plastik memindahkan tahu goreng dengan penjepit ke piring, di samping etalase kaca tertutup, wadah air berkeran, dan wastafel dengan sabun
Ilustrasi AI — Penjepit, sarung tangan, etalase tertutup, dan tempat cuci tangan termasuk hal yang bisa diamati dari depan lapak.

Sebelum memesan: lapak, penjual, dan bahan

Tempat dan lingkungan lapak

  • Lapak tidak berdiri tepat di samping tumpukan sampah, saluran air terbuka yang berbau, atau tempat penampungan sampah. Permenkes 2/2023 meminta bangunan tempat pengelolaan pangan jauh dari sumber pencemaran seperti tempat penampungan sementara sampah, atau ada upaya mencegah dampaknya.
  • Makanan matang ditutup atau disimpan dalam etalase. Permenkes 2/2023 meminta pangan matang yang sudah diporsi segera ditutup dan tidak disimpan terbuka di area luar tempat pengolahan.
  • Tidak ada lalat yang hinggap berulang di makanan siap saji. Poster WHO menyebut perlindungan makanan dari serangga, hama, dan hewan lain sebagai bagian dari kunci kebersihan.
  • Tempat bumbu, sendok, dan alat makan tertutup atau tersimpan bersih. Permenkes 2/2023 menyebut tempat bumbu dan alat makan harus tertutup, mudah dibersihkan, dan bersih.

Penjual dan cara memegang makanan

  • Makanan matang diambil dengan penjepit, sendok, atau sarung tangan, bukan tangan telanjang. Permenkes 2/2023 menyebut cara ini secara eksplisit untuk penjamah pangan.
  • Bila hanya ada satu orang yang melayani, perhatikan apakah tangan yang menerima uang juga langsung mengambil makanan.
  • Penjamah pangan tidak merokok, batuk, atau bersin ke arah makanan. Kuku pendek dan bersih, luka di tangan tertutup penutup tahan air. Semua ini termasuk persyaratan penjamah pangan dalam Permenkes 2/2023.
  • Ada air mengalir atau setidaknya wadah air bersih dan sabun. Poster WHO meminta tangan dicuci sebelum menangani makanan, sering selama persiapan, dan setelah dari toilet.

Penanganan bahan mentah dan alat

  • Daging, ayam, atau seafood mentah disimpan terpisah dari makanan matang. Poster WHO meminta alat seperti pisau dan talenan dibedakan untuk bahan mentah.
  • Bahan mentah dari hewan tidak dibiarkan di bawah terik tanpa pendingin. Permenkes 2/2023 menyebut bahan mentah hewani disimpan pada suhu 4°C atau lebih rendah, dan bila tidak ada lemari pendingin dapat memakai kotak pendingin, es, atau kantong pendingin dengan termometer.
  • Lap yang dipakai mengelap meja tidak dipakai mengelap piring makan. Manual WHO menyebut lap, tangan, dan talenan sebagai pembawa mikroorganisme yang dapat memindahkannya ke makanan.

Kewajiban penjamah pangan menurut Permenkes

Penjamah pangan adalah orang yang langsung menangani makanan, termasuk penjual kaki lima yang memasak sendiri. Permenkes 2/2023 memuat daftar persyaratan bagi mereka. Penjamah harus sehat dan bebas penyakit menular, dengan contoh diare, demam tifoid, dan hepatitis A. Penjamah yang sedang sakit tidak boleh mengolah pangan sampai sehat kembali. Selama bekerja, penjamah memakai celemek, masker, penutup kepala, dan alas kaki tertutup, tidak memakai perhiasan seperti cincin dan gelang, serta tidak merokok, meludah, atau mengunyah makanan. Tangan dicuci dengan sabun sebelum dan secara berkala saat mengolah pangan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan paling sedikit sekali setahun di fasilitas pelayanan kesehatan, dan penjamah memiliki sertifikat pelatihan atau penyuluhan keamanan pangan siap saji sesuai jenis tempatnya.

Manual Five Keys WHO menjelaskan alasan di balik aturan itu. Mikroorganisme ditemukan terutama pada tinja, tanah dan air, tikus serta serangga, hewan, dan manusia, termasuk di tangan, kuku, hidung, dan mulut. WHO menyarankan masker bagi orang yang mungkin batuk atau bersin saat menangani makanan, serta sarung tangan untuk menutup luka yang diganti secara berkala. Pembeli tentu tidak dapat menanyakan hasil pemeriksaan kesehatan penjual. Namun tanda-tanda yang terlihat, seperti penutup kepala, luka yang ditutup, atau penjual yang berhenti sejenak untuk mencuci tangan setelah memegang uang, sejalan dengan persyaratan tersebut.

Suhu dan waktu: patokan angka yang berguna

Bagian ini merangkum angka yang muncul di rujukan WHO dan Permenkes. Angka tidak bisa diukur di setiap lapak, tetapi membantu memahami alasan di balik setiap pilihan.

  • 70°C. Poster WHO menyebut makanan seperti sup dan semur sebaiknya dididihkan agar mencapai 70°C. Untuk daging dan unggas, cairannya harus bening, tidak merah muda.
  • Di atas 60°C. Makanan matang yang disajikan panas sebaiknya dijaga lebih dari 60°C sebelum disajikan. Permenkes 2/2023 juga meminta pangan siap saji berkuah disimpan panas di atas 60°C dan pangan panas yang diangkut dijaga 60°C atau lebih.
  • Di bawah 5°C. WHO menyarankan makanan matang dan mudah rusak segera didinginkan, sebaiknya di bawah 5°C. Permenkes 2/2023 meminta buah potong dan salad disimpan pada suhu di bawah 5°C di lemari pendingin atau kotak pendingin.
  • Dua jam. Poster WHO menyarankan makanan matang tidak dibiarkan di suhu ruang lebih dari dua jam.
  • Enam jam. Manual WHO menjelaskan bahwa satu bakteri dapat membelah menjadi dua dalam 15 menit, sehingga dalam enam jam satu bakteri bisa menjadi lebih dari 16 juta.

Hitungan terakhir itu menjelaskan mengapa lauk bersantan atau nasi yang dimasak sejak subuh lalu dipajang terbuka sampai sore lebih berisiko daripada gorengan yang baru diangkat dari minyak. Manual WHO menyebut daging, seafood, nasi matang, pasta matang, susu, keju, dan telur sebagai makanan yang memberi kondisi ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme.

Saat makanan disiapkan di depan pembeli

  1. Dimasak atau dipanaskan ulang saat dipesan. Bakso yang direbus dalam kuah mendidih, sate yang dibakar ulang, atau gorengan yang digoreng di depan pembeli memenuhi kunci “masak hingga matang” secara lebih meyakinkan. Poster WHO juga meminta makanan matang dipanaskan ulang secara menyeluruh.
  2. Warna dan tekstur sesuai. Daging ayam tidak merah muda di bagian dalam, telur yang semestinya matang tidak encer, dan seafood matang merata.
  3. Sayur mentah dicuci. Lalapan, acar, dan sayur untuk karedok atau rujak dimakan tanpa dimasak. Permenkes 2/2023 meminta buah dan sayur segar yang langsung dikonsumsi dicuci dengan air berkualitas air minum. Bila tidak tampak ada air bersih di lapak, menu yang dimasak menjadi pilihan lebih aman.
  4. Bumbu dan saus dari wadah tertutup. Sambal, kecap, dan saus kacang yang dibiarkan terbuka sepanjang hari lebih mudah dihinggapi serangga.
  5. Mencicipi dengan alat terpisah. Permenkes 2/2023 meminta penjamah mencicipi masakan menggunakan peralatan khusus, misalnya sendok tersendiri, bukan sendok saji yang kembali masuk panci.

Lembar fakta keamanan pangan WHO menghubungkan beberapa penyebab penyakit dengan jenis makanan tertentu. Hubungan ini membantu memilih menu ketika kondisi lapak sulit dinilai.

  • Unggas mentah atau kurang matang, susu mentah, dan daging ruminansia dikaitkan dengan wabah Campylobacter. Pada jajanan, ini relevan untuk sate ayam yang dibakar terburu-buru atau ayam yang masih merah muda di dekat tulang.
  • Buah dan sayur mentah sering dikaitkan dengan Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC). Lalapan, rujak, karedok, dan asinan termasuk kelompok ini.
  • Salad dingin siap santap dan produk susu tanpa pasteurisasi dikaitkan dengan Shigella.
  • Daging mentah atau kurang matang, sayur daun mentah, dan jus tanpa pasteurisasi dikaitkan dengan E. coli penghasil toksin Shiga (STEC).
  • Sayur mentah dan seafood mentah atau kurang matang pernah terlibat dalam wabah kolera, yang dapat menyebabkan diare cair berat dan dehidrasi cepat.
  • Produk susu tanpa pasteurisasi dan berbagai makanan siap santap dapat mengandung Listeria, yang mampu tumbuh pada suhu lemari pendingin dan berbahaya bagi ibu hamil.

Daftar ini tidak berarti lalapan atau jus harus dihindari sepenuhnya. Maknanya, menu mentah membutuhkan dua syarat yang tidak bisa digantikan pemasakan: bahan dicuci dengan air yang aman dan disimpan dingin. Bila dua syarat itu tidak tampak terpenuhi, menu yang dimasak memberikan margin keamanan lebih besar. Poster WHO sendiri menyarankan memilih makanan yang sudah diproses untuk keamanan, seperti susu yang dipasteurisasi.

Enam prinsip higiene sanitasi pangan dalam Permenkes

Lampiran Permenkes 2/2023 meminta pengelola pangan olahan siap saji menerapkan enam prinsip higiene sanitasi pangan. Mengetahui urutannya membantu pembeli membayangkan rantai yang tidak terlihat di balik satu porsi makanan.

  1. Pemilihan dan penerimaan bahan. Bahan tanpa kemasan berasal dari sumber yang jelas, bermutu baik, utuh, dan tidak rusak. Bahan kemasan berlabel, terdaftar, dan tidak kedaluwarsa. Kaleng tidak menggelembung, bocor, penyok, atau berkarat. Makanan sisa yang tidak habis terjual tidak boleh diolah kembali menjadi makanan baru.
  2. Penyimpanan bahan. Bahan mentah hewani disimpan pada 4°C atau lebih rendah, bahan beku tetap dalam keadaan beku, dan penyimpanan memakai prinsip yang masuk lebih dulu atau yang kedaluwarsa lebih dulu dipakai lebih dulu.
  3. Pengolahan. Bahan dicuci dengan air mengalir, pengolahan menghindari kontaminasi silang, pangan beku dicairkan dengan cara yang aman, dan pangan dimasak sampai matang sempurna.
  4. Penyimpanan pangan matang. Pangan matang tidak dicampur dengan bahan mentah, wadahnya terpisah per jenis, dan pangan matang beku yang sudah dilunakkan tidak boleh dibekukan kembali.
  5. Pengangkutan pangan matang. Alat angkut bebas debu, serangga, dan bahan kimia, pangan panas dijaga 60°C atau lebih, dan pangan dingin dijaga 4°C atau lebih rendah.
  6. Penyajian. Pangan disajikan bersih, dalam wadah tertutup yang tara pangan, dan pangan dalam kotak diberi tanda batas waktu konsumsi.

Rincian prinsip penyajian dalam lampiran yang sama memuat beberapa hal lain yang terlihat dari depan lapak. Pangan yang tidak dikemas disajikan dengan penutup, misalnya tudung saji, atau di dalam lemari pajang tertutup. Pangan matang yang baru dimasak tidak dicampur dengan pangan yang sudah lebih dulu dikeluarkan, kecuali bila berada pada suhu 60°C atau lebih atau 5°C atau kurang dan tidak ada risiko keamanan pangan. Pangan berkadar air tinggi baru dicampur menjelang dihidangkan agar tidak cepat basi, dan pada prasmanan setiap sajian baru memakai piring bersih, bukan piring yang masih menyisakan pangan lama. Kemasan pangan dilengkapi merek atau nama usaha, alamat lengkap, dan nomor telepon yang bisa dihubungi konsumen. Bagian peralatan menambahkan bahwa peralatan masak dan makan sekali pakai tidak dipakai ulang.

Dari keenam prinsip itu, butir pertama paling sering bisa diamati langsung oleh pembeli: kaleng penyok, kemasan bahan tanpa label, atau lauk sisa kemarin yang digoreng ulang dan dicampur dengan lauk baru.

Air minum, es batu, dan minuman campuran

Minuman sering luput dari perhatian karena terlihat sederhana. Padahal WHO menyebut bahan baku termasuk air dan es dapat tercemar mikroorganisme berbahaya dan bahan kimia. Permenkes 2/2023 menetapkan bahwa es batu harus dibuat dari air berkualitas air minum. Dalam lampiran yang sama, standar air minum mencantumkan kadar maksimum Escherichia coli dan total coliform sebesar 0 CFU per 100 ml.

  • Air minum kemasan dengan segel utuh adalah pilihan paling mudah diverifikasi. Pemeriksaan kemasan dan izin edarnya sama dengan produk pangan lain, seperti dijelaskan dalam artikel tentang memilih oleh-oleh makanan yang aman.
  • Minuman panas seperti teh, kopi, atau wedang yang baru diseduh dengan air mendidih memiliki risiko mikrobiologis lebih kecil daripada minuman dingin campuran.
  • Es batu berbentuk seragam dari mesin atau pabrik lebih mudah ditelusuri asalnya. Es balok yang dipecah di atas lantai atau karung terbuka layak dihindari.
  • Jus dan es buah menggabungkan buah potong, air, es, dan sering susu kental manis. Buah potong menurut Permenkes 2/2023 disimpan di bawah 5°C. Bila buah dipotong sejak lama dan dipajang di udara panas tanpa pendingin, pilih minuman lain.

Pewarna dan pengawet yang tidak boleh ada

Selain mikroba, Permenkes 2/2023 memuat parameter kimia dalam standar baku mutu pangan olahan siap saji. Tabel tersebut mensyaratkan hasil negatif untuk boraks, formalin, rhodamin B, dan methanil yellow per 25 gram sampel. Dengan kata lain, keempat zat tersebut tidak boleh terdeteksi sama sekali dalam makanan siap saji.

Pembeli tidak dapat memastikan keberadaan bahan-bahan ini hanya dengan melihat. Permenkes 2/2023 menyebut pemeriksaan boraks menggunakan kunyit dan tusuk gigi sebagai contoh teknologi tepat guna dalam upaya penyehatan pangan oleh petugas, bukan sebagai uji yang menggantikan laboratorium. Bagi pelancong, langkah yang realistis adalah menghindari makanan dengan warna merah atau kuning yang mencolok dan tidak wajar untuk jenisnya, serta mengikuti pengumuman dinas kesehatan atau Balai POM setempat bila ada temuan.

Jajan dalam situasi khusus

Prasmanan dan ambil sendiri

Di warung prasmanan, pembeli mengambil lauk sendiri. Permenkes 2/2023 menyebut bahwa bila konsumen mengambil sendiri pangan olahan siap saji, perlu disediakan tempat cuci tangan, alat pengambil makanan, dan masker saat pengambilan. Gunakan sendok saji yang tersedia untuk setiap lauk, jangan menukar sendok antarwadah, dan pilih lauk yang wadahnya tertutup atau berada di bawah pelindung.

Pasar malam dan festival

Di area dengan banyak lapak sementara, akses air bersih sering terbatas. Menu yang dimasak panas di tempat lebih mudah dinilai daripada makanan yang dibawa jadi dari rumah lalu dipajang berjam-jam. Prinsip yang sama dipakai di pasar tradisional, sebagaimana dibahas dalam artikel tentang etika mencicipi makanan di pasar tradisional. WHO Kantor Regional Pasifik Barat juga menerbitkan panduan Five keys for safer traditional food markets pada April 2023 dengan lima kunci khusus pasar: jaga kebersihan, hindari kontaminasi, jaga produk pangan tetap aman, kurangi kontak dengan hewan, dan lindungi diri.

Rute dengan banyak perhentian

Rute jajan yang menyambung beberapa titik dalam sehari menambah jumlah keputusan yang harus diambil. Membawa sabun cair kecil atau cairan pembersih tangan, tisu, dan air minum kemasan sendiri mengurangi ketergantungan pada fasilitas setiap lapak. Pertimbangan menyusun rute antarsimpul transportasi dibahas dalam artikel tentang rute kuliner kaki lima dengan transportasi umum.

Kelompok yang lebih rentan

Anak balita menanggung bagian beban penyakit bawaan makanan yang lebih besar menurut WHO. Untuk rombongan dengan anak kecil, orang lanjut usia, ibu hamil, atau orang dengan daya tahan tubuh rendah, pilihan yang dimasak panas dan baru diangkat dari kompor patut didahulukan, sementara makanan mentah, setengah matang, dan es campuran dibatasi.

Pesan-antar ke penginapan

Banyak pelancong memesan jajanan lewat aplikasi pesan-antar ke hotel atau penginapan. Permenkes 2/2023 memasukkan situasi ini dalam prinsip pengangkutan pangan matang. Pelaku usaha diminta mengemas pangan secara aman agar tidak terkontaminasi, dan pembawa pesanan diminta memastikan pangan yang dibawa aman dari kontaminasi.

Beberapa hal dapat diperiksa saat pesanan tiba:

  • Kemasan tertutup rapat, tidak bocor, dan tidak penyok sampai isinya tertekan keluar.
  • Makanan yang semestinya panas masih hangat. Bila sudah dingin, pertimbangkan berapa lama makanan berada di perjalanan dan di meja penerima, dengan patokan dua jam dari WHO.
  • Kuah dan sambal dipisahkan dari bahan utama, terutama untuk menu dengan sayur mentah.
  • Bila kemasan mencantumkan batas waktu konsumsi, ikuti batas itu. Permenkes 2/2023 meminta pangan matang dalam kotak diberi tanda tanggal dan waktu boleh dikonsumsi.

Sisa makanan pesan-antar yang tidak langsung habis sebaiknya segera didinginkan bila ada lemari pendingin di kamar, lalu dipanaskan ulang sampai benar-benar panas sebelum dimakan. Tanpa pendingin, sisa lauk bersantan atau berbahan daging lebih aman tidak disimpan semalam.

Setelah makan: gejala dan kapan ke fasilitas kesehatan

Manual Five Keys WHO menyebut gejala umum penyakit bawaan makanan berupa sakit perut, muntah, dan diare. Gejala dapat muncul sangat cepat atau baru setelah beberapa hari hingga beberapa minggu, tetapi pada kebanyakan penyakit bawaan makanan gejala muncul 24 sampai 72 jam setelah makan. Manual yang sama memperkirakan 3 persen kasus dapat berlanjut menjadi masalah kesehatan jangka panjang.

Patokan WHO untuk mencari bantuan medis cukup jelas: bila buang air besar sangat sering, sangat encer, berdarah, atau berlangsung lebih dari tiga hari. Bila gejala berat, bantuan medis dicari segera. WHO juga menyarankan orang yang sakit tidak menyiapkan makanan untuk orang lain selama sakit dan 48 jam setelah gejala berhenti. Lembar fakta WHO menyebut norovirus sebagai penyebab umum infeksi bawaan makanan dengan gejala mual, muntah hebat, diare cair, dan sakit perut, sedangkan virus hepatitis A dapat menular melalui seafood mentah atau kurang matang dan produk segar yang tercemar.

Mencatat apa yang dimakan, di mana, dan jam berapa membantu tenaga kesehatan menelusuri penyebab. Catatan itu juga berguna bila beberapa orang dalam rombongan sakit bersamaan setelah makan di tempat yang sama, situasi yang dapat dilaporkan ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat.

Versi ringkas untuk disimpan di ponsel

  1. Lapak jauh dari sampah, makanan matang tertutup, lalat tidak berkerumun.
  2. Makanan matang diambil dengan penjepit atau sendok, bukan tangan yang baru memegang uang.
  3. Bahan mentah terpisah dari makanan matang, talenan dan wadah berbeda.
  4. Pilih yang dimasak atau dipanaskan ulang saat dipesan, kuah mengepul.
  5. Lauk mudah rusak tidak dipajang di suhu ruang lebih dari dua jam.
  6. Air minum kemasan bersegel, minuman panas, atau es dari sumber jelas.
  7. Hindari warna merah atau kuning mencolok yang tidak wajar untuk jenis makanannya.
  8. Diare sangat sering, sangat encer, berdarah, atau lebih dari tiga hari: cari bantuan medis.

Sanitizer, rasa pedas, dan pengawasan tempat makan

Apakah cairan pembersih tangan bisa menggantikan cuci tangan dengan sabun?
Poster WHO menekankan mencuci tangan. Permenkes 2/2023 menyebut sanitizer sebagai alternatif bagi penjamah setelah menggaruk anggota badan. Bila tangan tampak kotor atau berminyak, sabun dan air mengalir tetap lebih baik.
Lebih amankah makanan yang sangat pedas atau asam?
Rujukan WHO dan Permenkes tidak menjadikan rasa pedas atau asam sebagai langkah pengendalian. Patokannya tetap pemasakan, pemisahan, suhu, kebersihan, serta air dan bahan yang aman.
Siapa yang mengawasi kebersihan tempat makan di daerah?
Permenkes 2/2023 mengatur inspeksi kesehatan lingkungan terhadap tempat pengelolaan pangan dan mendorong tempat yang memenuhi syarat mengajukan sertifikat laik higiene sanitasi. Pertanyaan atau laporan dapat diajukan ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat.

Dokumen WHO dan Kementerian Kesehatan tentang kebersihan pangan